Wednesday, September 16, 2015

[Concert Review] Bon Jovi Live at Jakarta


Jika ada daftar band yang paling ingin saya saksikan secara live,maka nama yang menempati urutan pertama adalah Bon Jovi. Band rock asal New Jersey, Amerika Serikat ini masih tetap eksis di musik dunia meski usia mereka sudah tidak muda lagi.  Sayangnya ketika Bon Jovi pertama kali datang di tahun 1995, saya masih kecil sekali dan belum mengenal mereka. Harapan untuk menonton mereka secara live terus tersimpan, entah mereka manggung di Indonesia ataupun di luar negeri.  Berita Bon Jovi datang di bulan September ke Indonesia membuat saya begitu antusias. Kesedihan tidak bisa menonton Imagine Dragons di Singapura, band alternative rock yang juga saya sukai, sirna karena Bon Jovi. Yes! Yes! Yes!

 
Dengan pertimbangan faktor tinggi badan dan ketahanan fisik, saya memutuskan beli tiket jenis lower tribune. Di hari penjualan perdana tiketnya, saya memantau web kiostix hingga refresh setiap menit. Usaha saya cepat membuahkan hasil. Dua tiket lower tribune right segera didapat. Teman nonton konser saya adalah Kak Indri, yang mengidolakan Bon Jovi sejak dua puluh tahun lalu. 
 
Karena set list dirahasiakan, saya jadi menebak-nebak single mana yang akan dibawakan dari 15 album Bon Jovi. Playlist musik hanya memutar lagu-lagu Bon Jovi, campuran antara hits lama dan album terbarunya, Burning Bridges. Informasi awal tidak ada opening act untuk Bon Jovi, lalu tiba-tiba diumumkan Judika dan Sam Tsui akan membuka konser Bon Jovi. Saya tidak keberatan dengan Judika. Justru turut bangga dengan musisi Indonesia ini tapi sayangnya Judika hanya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya pun heran kenapa Sam Tsui menjadi opening act dan mungkin banyak penggemar Bon Jovi lainnya mempertanyakan juga. Jujur, saya belum pernah mendengarkan Sam Tsui. Konon ia terkenal dari Youtube. 


Bon Jovi memulai konser pada pukul 20.30. Spontan suasana riuh melihat idola yang cukup lama dinantikan tampil di Indonesia. Dua puluh tahun untuk kembali tampil di Indonesia. Jarak tribune lumayan jauh dari panggung tapi tidak mengurangi kehebohan melihat aksi Bon Jovi di layar. Pesona dan kharisma Jon Bon Jovi masih membuat penonton berteriak histeris. Rambut putih dan keriput dari anggota-anggotanya ,kecuali dua gitaris baru yang lebih muda, tidak membuat performance mereka kalah pamor dengan band-band baru. 


Welcome back Bon Jovi!

Yang paling merinding buat saya saat menyanyikan lagu It’s My Life. Intronya saja sudah buat jejeritan. Sepanjang lagu saya berteriak dan jingkrak-jingkrak. Satu stadion GBK bernyanyi kencang!  Sebagian besar lagu Bon Jovi favorit saya memang lagu yang menghentak dengan lirik yang mudah diingat seperti “Everyday”, “Have a Nice Day”, “Bounce”, “Work for the Working Man”. Lagu-lagu Bon Jovi yang selalu hadir sebagai pelipur lara ketika saya menghadapi hari yang melelahkan atau masalah yang menjengkelkan. Mau lagu lama ataupun lagu baru Bon Jovi tidak masalah. Saya tetap berjoget dan menikmati lagu. Dari total hampir 2 jam, Bon Jovi membawakan kurang lebih 20 lagu. Hanya satu lagu yang saya benar-benar blank, tidak ada clue judulnya. . Sayangnya lagu ballad seperti “Always”, “Bed of Roses” dan “Thank You for Loving Me” tidak dinyanyikan yang bagi saya tidak mengurangi keepikan dari konser Bon Jovi.


OM JON!! *mata lope-lope

Dokumentasi konser saya tidak terlalu banyak. Saya hanya mengeluarkan kamera ketika Bon Jovi menyanyikan lagu yang tidak terlalu saya kenal. Jangan dibandingkan dengan stamina Bon Jovi dua puluh tahun lalu, untuk seumuran mereka masih oke. Gebukan Tico Torres dan aksi individual David Bryan dengan dua keyboard depan belakang patut diacungi jempol. Ketidakhadiran Richie Sambora memang terasa ada yang kurang.. Menonton langsung Bon Jovi bisa mengamati hal-hal kecil dari Jon Bon Jovi secara langsung seperti hidungnya semakin lama semakin merah, mata kirinya akan mengernyit ke atas saat mengambil nada tinggi dan sesekali saya menangkap suaranya Jon agak sengau. Tidak lupa sesekali Jon Bon Jovi mengucapkan kata-kata Indonesia; Apa Kabar, Terima Kasih, Aku cinta Indonesia.

 Bon Jovi Live Concert at Jakarta

Ada yang berpendapat animo konser Bon Jovi masih kalah dengan konser-konser penyanyi remaja, boyband dari negeri ginseng. Eits, jangan salah yang mau nonton Bon Jovi banyak tapi memang tidak menunjukkan antusiasnya di sosial media. Penonton konser Bon Jovi sangat beragam dan lintas generasi. Dari bapak-bapak yang rambutnya putih semua kayak Om Jon , ibu-ibu muda yang mengenakan boots, jaket dan jeans robek-robek, sampai anak-anak muda sepantaran saya. Merchandise Bon Jovi digelar dari pintu masuk area Stadion Gelora Bung Karno. Saya seperti melihat evolusi Bon Jovi dengan berbagai pose dari gambar-gambar kaos tersebut. Sehari sebelum konser saya mencari kaos Bon Jovi di ITC Kuningan dan Mall Ambassador ternyata kaos-kaos Bon Jovi sudah kosong dan tidak ada yang jual dari seminggu lalu. Hanya satu toko yang masih ada stock di Mall Ambassador dengan menunggu pemilik toko datang setelah jam makan siang. Uniknya di konser Bon Jovi, calo tiket bukannya jual tiket malah menawar mau beli tiket konser. Waw!

 Ngantri anti-mainstream. xp

Konser sold out Bon Jovi sempat dikaitkan dengan krisis yang sedang terjadi. Apa itu krisis kalau orang Indonesia mampu beli tiket Bon Jovi, kira-kira begitulah sindirannya. Yang tidak kita ketahui adalah pengorbanan di balik itu yang dilakukan fans Bon Jovi. Who knows? Bisa saja kan fans Bon Jovi telah mempunyai tabungan dari dulu atau mereka harus bekerja lebih keras untuk membayar tiket.

Penampilan Bon Jovi di Jakarta ini konser yang pertama dalam dua tahun belakangan. Bon Jovi terakhir manggung pada Desember 2013 di Brisbane, Australia. Single “We Don’t Run” dari album terbaru Burning Bridges dinyanyikan pertama kali secara live di Jakarta. Spesial sekali bukan konser Bon Jovi di Jakarta. Euforia pasca konser menguasai saya selama dua hari. Walaupun sebagian besar foto blur setidaknya ada satu-dua foto yang memuaskan hati. Ada perasaan bahagia setiap kali mengingat atmosfir konser Bon Jovi yang tak terlupakan. Pengorbanan demi Bon Jovi terasa tidak sia-sia. Worth any price!

Friday, April 17, 2015

Break The Silence

Baru kali ini saya vakum hampir 3,5 bulan tidak menulis apa-apa di blog. Sebelum tutup tahun 2014, saya begitu semangat untuk menulis tetapi kenyataannya justru berkebalikan. Saya tetap blogwalking ke blog-blog favorit saya hanya untuk menemukan semangat menulis.  Penyebabnya masalah teknis dan non teknis. Pertama menyangkut perpanjangan domain. Ketika ingin memproses perpanjangan domain, saya tidak bisa mengakses setting google admin console. Saya harus mengupdate metode pembayaran karena kartu kredit saya yang lama sudah expired. Saya berkali-kali gagal log in ke adminnya google. Saya biarkan sampai deadline expirednya semakin dekat. Akhirnya saya meminta bantuan ke teman kantor yang tim IT, yang langsung membereskan masalah dalam hitungan menit.


Satu hal yang saya sadari ketika frustasi log in ke google admin adalah kehilangan tulisan-tulisan lama saya. Saya tidak ada back up. Apakah saya rela postingan-postingan lama hilang ? Walaupun sebagian besar postingan tersebut penuh emosi dan kegalauan tingkat ababil, saya menyayangi tulisan-tulisan tersebut sebagai bagian dari diri saya. Hal-hal yang pernah saya lalui dahulu saya bagikan tanpa berpikir dan berniat macam-macam. Sekarang untuk mempublikasikan tulisan rasanya banyak pertanyaan. Apakah cukup penting untuk dibagikan ?


Faktor non teknis berkaitan dengan rutinitas yang saya jalani. Sebagai karyawan 9-to-5 sepertinya tidak ada yang menarik untuk diceritakan, sesuatu yang dulunya tidak saya inginkan. Entah mungkin saya terlena dengan zona aman atau terikat dengan kewajiban yang tidak memungkinkan saya bersikap egois. Saya merindukan masa-masa lampau yang dimana beban hidup yang sudah berat tapi masih bisa dinikmati. Saya kehilangan passion-passion yang dulunya membuat hidup berwarna seperti travelling, fotografi. Semuanya saya tinggalkan. Semakin tenggelam dalam sisi melankolis saya dan semakin hari semakin skeptis. Saya lupa bahwa dulu saya pernah ceria dan bahagia. Mungkin saya sendiri pun tidak mengenali diri sendiri lagi. *sighs* Hingga mendekati hari ulang tahun ke-27, suara hati saya berteriak "You can't be like this..foreveeeer".


27 tahun, 27 hari lagi..


Tuesday, December 30, 2014

Raun-raun ke Pasar Santa

Give respect, Get Respect


Santa kini seru! :)


Pop-up bookstore, POST Santa


sepotong kue, anyone ?


Sate Padang Ajo Ramon. Salah satu sate padang paling enak se-Jakarta.

Tuesday, December 23, 2014

Mawar di Hari Ibu


"Selamat hari ibu, uni"



Dan saya pun terharu.




[Concert Review] Konser Gajah Tulus

Ketika Tulus melangsungkan konser di Bandung, saya berharap dia akan menggelar konser serupa di Jakarta. Sebagai penyanyi yang sedang naik daun, Tulus menyanyi di berbagai event du 2014. Beberapa kali 'nyaris' menonton Tulus secara live. Di Java Jazz 2014, schedule Tulus tidak pas dengan kedatangan saya. Tiket nonton Java Soulnation saya hangus karena saya di luar kota.  Event jazz tahunan almamater saya pun, JGTC FEUI, terlewatkan. Mungkin memang saya diberikan kesempatan yang lebih baik yaitu hadir di Konser Gajah Tulus. Waktu pengumuman konser saya tidak langsung membeli, saya masih pikir-pikir mau nonton. Mau nonton sama siapa ya? Ternyata kawan dekat saya mau nonton. Aseek.

 Yeay!

Konser Gajah Tulus dilangsungkan 2 Desember 2014 di Kartika Expo, Balai Kartini. Hari kerja. Jadi pulang ngantor langsung cuss. Persiapan konser kami membeli ayam KFC. Isi perut dulu sebelum masuk venue. Karena pintu masuk belum dibuka, saya ke toilet dahulu, tak disangka antriannya panjang. 30 menit cuman buat ngantri toilet. Errrrr.. Duh jadi engga enak sama teman, bisa dapat spot belakang yang jauh dari panggung.


 numpang narsis dulu di booth sponsor x)

Konser harus dimulai jam 20.00 tapi panggung masih kosong. Ketika penonton yang duduk berdiri dan semuanya bergerak mendekati panggung, tiba-tiba saya merasa panik dan sesak. Saya batuk-batuk. Dem, semua minuman disita di pintu masuk. Serangan panik itu mereda pelan-pelan setelah kami mendapatkan posisi yang cukup ada space dengan penonton lainnya. Kami beringsut ke area tengah. Jarak ke panggung tidak sejauh pertama masuk.


 waaw ramenyoo

Melodi drum lagu Baru terdengar dari pengeras suara. Satu persatu pemain musik muncul dari balik panggung. Penonton mulai riuh. Dan bintang yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar, Muhammad Tulus Rusdi. Tulus menyapa penonton maju ke depan panggung festival. Emmm kok sedikit mirip seseorang ya. Hahaha. Penonton langsung ikut bernyanyi dan bergoyang. Nah di tengah-tengah lagu Tulus sempat berhenti dan berkata "suaranya.." sambil menggelengkan kepala. Penonton yang sudah larut bernyanyi cukup membantu Tulus, yang antara masih sakit flu atau sedang grogi. Sehabis lagu pertama, Tulus mengungkapkan perasaannya yang deg-degan banget. Keliatan sih. Hihihi.

Perkembangan teknologi turut mempengaruhi bagaimana orang menonton konser. Dari kamera canggih, Ipad/tab yang sebesar talenan, yang terbaru tongkat-tongkat narsis yang terjulur disana sini. Selintas pikiran bagaimana jika tongsis jatuh mengenai penonton yang di depan. Hiii serem juga ya. View dari kamera tongsis juga cukup membantu melihat Tulus lebih dekat. Ah sayang saya tidak membawa kamera.

Manakah lagu Tulus yang paling kamu suka ? Saya cukup susah menjawab pertanyaan tersebut. "Sewindu" adalah lagu pertama yang saya dengar dari Tulus. Dan cara pengenalannya cukup berkesan. Lagu "Sepatu" tidak cuma sekedar musiknya yang enak. Maknanya itu loh. Ehem yang kena friendzone pasti paham lagu ini. Hahaha. "Lagu untuk Matahari" bikin semangat menyongsong hari. Hanya satu lagu yang powerful karena ketika mendengarkannya saya tahu tidak mudah bagi Tulus untuk menulisnya. Lagu itu berjudul "Gajah". Saya langsung teringat judul novel Agatha Christie "Gajah selalu ingat" dan salah satu scene film india yang saya tonton waktu kecil. Filmnya sedih. Gajah yang menyelamatkan tokoh antagonisnya hanya karena waktu kecil dia bersikap baik sama gajah itu. Olok-olokkan masa kecil mungkin terasa lucu tapi tidak jika kamu merasakan sendiri. I feel you, Tulus. Lagu indah adalah lagu yang jujur. Saya mendengarkan lagu tersebut sambil memejamkan mata. Seolah-olah Tulus hanya bernyanyi untuk saya.


Tulus 

Tulus menyediakan kejutan tamu spesial. Bersama RAN, ia menyanyikan lagu duet mereka "Kita bisa". Pertanyaan besar saya malam itu adalah Apakah Raisa akan tampil ? Gosip tentang mereka pacaran sedang menghangat. Di Lagu untuk Matahari, muncul Vidi Aldiano dan penonton makin heboh waktu Raisa masuk panggung. Cieee cieee. Saya juga heboh waktu Endah N Rhesa turut bergabung dalam kolaborasi apik ini. Di akhir lagu Tulus memperkenalkan mereka masing-masing. Saat mereka kembali ke panggung, Tulus menyalami tamu-tamunya. Dan tiba giliran Raisa langsung cipika cipiki. Aaaaa...yang cewek-cewek histeris. Yang cowok-cowok ikutan teriak juga. Hahaha. Ngiri ama Tulus yaa.

 

Wednesday, December 17, 2014

Thursday, October 16, 2014

[Movie Review] Tabula Rasa




Hans, pemuda dari Serui, Papua, mengadu nasib menjadi pemain bola professional ke Jakarta. Realitanya Hans luntang-lantung di jalanan. Ia frustasi, nanar dan hendak bunuh diri. Hans yang terkapar di jalan dipertemukan dengan Mak yang baru pulang dari pasar. Mak membawa Hans ke rumah makannya, Takana Juo. Mak menghidangkan Gulai Kepala Ikan Kakap yang langsung dilahap Hans. Dari pertemuan di hari itulah kisah bergulir. Awalnya Hans bantu-bantu dengan cuci piring, mengaduk semen dengan upah diberi makan oleh Mak. Hans marah karena tidak dibayar dengan uang. Mak langsung berhadapan dengannya.

Mak detail sekali dalam belanja bahan-bahan masakan. Misalnya dalam memilih bawang. Bawang lokal rasanya lebih enak walaupun harganya lebih mahal dari bawang impor. “Lidah orang Minang itu nomor satu. Tidak apa-apa mahal sedikit yang penting rasanya enak.”,ujar Mak. Parmanto, juru masak Takana Juo, kurang senang dengan kehadiran Hans. Ketika Hans akhirnya menjadi bagian Takana Juo, Parmanto menyuarakan protesnya. Bagian keuntungan dari rumah makan tidak mencukupi lagi karena ada penambahan orang. Puncaknya Parmanto meninggalkan RM Takana Juo.

Sepeninggalan Parmanto, Hans tekun menuruti perintah Mak. Semangat Hans kembali datang. Dari menggiling cabai, memeras santan dengan kacik, memarut kelapa hingga mengaduk rendang. Rendang, makanan khas Minang yang paling terkenal. Dalam proses memasak Rendang sendiri tidak bisa asal, ada filosofinya. Santan Rendang harus diaduk dengan pas selama empat jam.“Kurang Kacau, Cirik Kambiang. Talalu Kacau, Bapantingan”,ujar Mak.

Pengunjung rumah makan Takana Juo semakin hari semakin sepi. Tak jauh dari Takana Juo, berdiri rumah makan padang baru Chaniago yang tempatnya lebih luas, lebih besar dan pegawainya lebih banyak. Pengunjungnya ramai sehingga Mak, Hans, mencoba makan disana. Mak terkejut setelah mencicipi sedikit makanannya. Ia langsung menghambur ke dapur Chaniago. Mak tahu betul siapa yang ia akan temui di dapur yaitu Parmanto, mantan juru masaknya.

Untuk mengatasi pelanggan yang sepi, Hans mengusulkan menu Gulai Kepala Kakap. Cukup berat bagi Mak, memasak Gulai Kepala Ikan Kakap adalah ziarah. Menu tersebut adalah masakan favorit anaknya yang meninggal dunia ketika terjadi gempa besar tahun 2009. Hari ketika Mak bertemu Hans adalah hari ulang tahun anaknya. Hanya di hari spesial itu lah Mak memasak Gulai Kepala Ikan Kakap. Akhirnya RM Takana Juo menjual Gulai Kepala Ikan Kakap.

Rumah Makan Takana Juo berhasil menggaet pelanggan. Saat dapat pesanan yang cukup besar, Mak jatuh sakit. Hans harus memasak semua pesanannya sendiri. Mendengar Mak masuk rumah sakit, Parmanto datang ke Takana Juo membantu Hans memasak. Rumah Makan Padang, juru masaknya orang Papua!

Bagi saya, Tabula Rasa memberikan makna tersendiri. Adegan Parmanto memakan Gulai Ikan Kepala Kakap sampai akhirnya dia menangis menyentuh saya. Makanan yang spesial yang tidak hanya sekedar rasa yang enak tetapi memberikan kenangan yang berarti. Seperti Mak yang memasak gulai Ikan Kepala Kakap, masakan kesukaan almarhum anaknya. Parmanto langsung tergugu teringat sanak saudara di Kampung. Keras kepalanya Parmanto pun luluh. Bahkan ketika Mak jatuh sakit, ia sukarela membantu Hans memasak.


Film Tabula Rasa sayang untuk dilewatkan. Kisah sederhana dari rumah makan padang yang menghangatkan hati. Sebagai film kuliner, potongan-potongan gambarnya mampu membuat perut berbunyi keroncongan. Sehabis menonton langsung deh cari Gulai Kepala Ikan Kakap. Saya termasuk orang yang tidak bisa lama-lama pisah dari masakan Padang. Patah salero atau kebingungan mau makan apa pasti larinya ke nasi padang juga. Jika sedang dinas luar kota maka saya akan berusaha mencari rumah makan Padang. Memang tidak semuanya juru masaknya rumah makan padang adalah orang Minang. Dari segi rasanya memang terasa ada yang kurang tapi sisi bagusnya adalah rumah makan padang ada dimana-mana.